Minggu, 24 Februari 2013

presenter cantik yang bekerja di Stasiun TV ONE


Inilah 15 presenter cantik yang bekerja di Stasiun TV ONE + alamat akun twitter / Facebook para presenter cantik Stasiun TV ONE tsb

Grace Natalie

 

Grace Natalie Louisa (lahir di Jakarta, 4 Juli 1982; umur 28 tahun) adalah seorang pembawa acara berita dan jurnalis. Ia pernah bekerja di SCTV, ANTV, dan sekarang di tvOne. Ia adalah penyiar tetap Kabar Pasar, selain itu juga sering tampil di Kabar Petang, Apa Kabar Indonesia, Kabar Terkini, dan sejumlah program lainnya.

Grace bersentuhan dengan dunia jurnalistik, bermula ketika SCTV menyelenggarakan kompetisi SCTV Goes to Campus untuk mencari bibit-bibit muda berbakat. Grace mengikuti kompetisi tersebut dan meraih kemenangan untuk wilayah Jakarta. Ketika ditandingkan lagi di tingkat nasional, ia masuk lima besar. Dari sinilah pintu masuk ke dunia pertelevisian mulai terbuka baginya.


Selesai kuliah, SCTV langsung merekrutnya. Di sana ia menjadi salah satu penyiar Liputan 6.
Dari SCTV, Grace pindah ke ANTV, sebelum akhirnya bergabung dengan tvOne. Grace, yang sempat mengikuti kursus kilat di Maastricht School of Management, Belanda dari Januari hingga April 2009, beberapa kali melakukan wawancara ekslusif dengan tokoh-tokoh internasional seperti misalnya Abhisit Vejjajiva (Perdana Menteri Thailand), Jose Ramos Horta (presiden Timor Leste), Steve Forbes (CEO Majalah Forbes), George Soros, dll.

Di dunia maya, Grace adalah salah satu pembawa acara berita terfavorit. Popularitasnya ini ditunjukkan lewat gelar Anchor of the Year 2008 dan Runner Up Jewel of the Station 2009 versi blog News Anchor Admirer.

Tina Talisa



Oleh teman-teman kantor, Tina Talisa suka diledek dengan panggilan bu dokter. Sebenarnya bukan ledekan, karena nyatanya Tina memang seorang dokter gigi yang pernah praktek di Bandung. Wanita bersuara merdu kelahiran Bandung 24 Desember ini adalah lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.

Dunia kedokteran sementara ditinggalkan Tina, yang kini lebih asyik menekuni profesinya sebagai seorang jurnalis.Sejumlah tokoh internasional pernah diwawancarai Tina. Semula Tina tidak punya bayangan bakal menjadi seorang presenter. Ia lebih fokus menekuni kuliahnya di kedokteran gigi. Ketertarikannya pada bidang broadcasting berawal ketika Tina menjadi penyiar di Radio Paramuda dan Radio Mustika Bandung. Ia seolah menemukan dunia baru yang tidak kalah mengasyikkannya dengan bidang kedokteran gigi.

Finalis Puteri Indonesia 2003 dan Juara l Mojang Jawa Barat 2003, itu kemudian pindah ke Jakarta, bukan buka praktek tapi malah memilih menjadi seorang reporter dan presenter di Trans TV. Tina yang dikenal kritis menghadapi nara sumber itu, kemudian bergabung dengan tvOne sejak 2007. Sesekali pemirsa tvOne bisa menikmati alunan suara merdunya, manakala ia menutup acara yang dibawakannya, Apa Kabar Indonesia Malam.

Indy Rahmawati




















Santun dan ramah. Itulah ciri khas Indy Rahmawati, jika sudah menghadapi nara sumber. Lihatlah penampilan Indy tiap pagi ketika membawakan acara Apakabar Indonesia Pagi bersama Andrie Djarot. Wanita berkulit kuning bersih kelahiran Bandung ini juga mudah bersahabat dan akrab, manakala membawakan acara ‘Satu Jam Lebih Dekat’.

Walau demikian, lulusan S-2 Universitas Padjadjaran penyuka kepiting ini, tidak kehilangan kekritisannya menghadapi narasumber yang beraneka latar belakang itu. “Saya berupaya mengemban amanah sebagai wartawan yang netral dan bertanggungjawab,” kata Indy.

Indy Rahmawati bergabung tvOne sejak Maret 2008. Sebelumnya, penggemar travelling dan fotografi inipernah berkarir di SCTV. Selain sebagai presenter, Indy kini juga seorang produser.
http://twitter.com/indyrahmawati

Farah Dilla



Cita-cita awal Farah Dilla adalah sebagai seorang pengusaha atau disainer. Maklum, ia lahir dan menghabiskan masa remajanya di kota industri batik Pekalongan. Di lingkungan Farah, banyak saudagar batik dan juga disaner batik. Setamat dari SMA Negeri 3 Pekalongan, wanita kelahiran 15 September 1978 itu hijrah ke Jakarta melanjutkan kuliah di STIE Perbanas.

Lulus kuliah, rupanya Farah lupa pada cita-citanya ketika masih di Pekalongan. Anak ke-4 dari empat bersaudara pasangan M. Hoesni Thamrin dan Zaenah itu malah ‘terdampar’ di dunia model dan film. Sebagai orang yang suka mencoba hal baru, Farah pun menjajal kemampuan menjadi presenter, ketika TPI membuka lowongan. Ia pun diterima sebagai reporter dan presenter di TPI.

Sejak Januari 2009, Farah Dilla, yang gemar memasak dan travelling itu, bergabung dengan tvOne. “Saya tidak pernah berpikir menjadi jurnalis, tapi ternyata saya suka, karena menjadi tahu banyak hal,” ujar istri dari musisi Aditya Nugraha itu.

Elvira Khairunnisa
















Pernah menjadi guru Bahasa Inggris, tapi akhirnya ‘terdampar’ sebagai jurnalis. Itulah Elvira Khairunnisa, yang sejak kecil tak memimpikan sebagai seorang presenter.
Sejak kecil, lulusan Sastra Inggris Universitas Negeri Medan ini justru tertarik bidang seni. Namun begitu kuliah, minatnya ke seni lebih fokus ke teater dan seni tradisional. Prestasinya lumayan, karena Elvisa dipercaya sebagai salah satu mahasiswa yang mewakili Sumatera Utara dalam festival teater antar universitas se-Indonesia.

Selesai kuliah, Elvira malah belok terjun sebagai jurnalis. “Awal mula tertarik menjadi jurnalis karena senang jalan-jalan dan bertemu banyak orang,” kata anak kedua dari tiga bersaudara kelahiran Lhokseumawe itu. Pengalaman yang paling berkesan, ketika meliput bencana tsunami Aceh pada 2004.

Elvira, yang kini menjadi asisten produser itu, pernah bekerja di TVRI sebelum akhirnya bergabung dengan tvOne pada Juli 2007.

Dewi Budianti




 Kalau umumnya anak kecil bercita-cita jadi dokter atau insinyur, tidak demikian halnya dengan Dewi Budianti Tirtamanggala. Sejak kecil, Dewi sudah berangan-angan jadi seorang jurnalis atau presenter. Setiap menonton televisi, ia begitu terpaku melihat presenter berita yang menurutnya mewakili gambaran sosok yang cerdas dan menginspirasi banyak hal.

Angan-angannya sebagai presenter berita mulai terkuak, ketika ia diterima sebagai penyiar radio Yasika FM Yogya pada 2002. Ketika itu, gadis berdarah Jawa-Sunda ini, masih duduk di kelas III SMA di Yogya. Untuk mewujudkan cita-citanya sebagai jurnalis, selepas SMA, gadis kelahiran Bandung 29 September 1985 itu, mantap memilih jurusan Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial & Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Ketika mahasiswa, aktivitas Dewi bukannya surut, tapi justru bertambah. Apalagi ketika ia berhasil lolos tes presenter yang diselengarakan JogjaTV. Pintu menuju kursi presenter pun terbuka. Disinilah awal karir Dewi sebagai presenter. Selain membawakan berita, ia dipercaya pula mengasuh acara remaja Zodiak, dan acara musik Kidung Memory.

Di sela-sela aktivitasnya sebagai seorang presenter, pengagum sosok Jendral Sudirman itu juga menekuni dunia model. “Saya senang berekspresi lewat fotografi,” tutur gadis berhidung mancung ini. Aksi Dewi di depan kamera sebagai model, bisa dinikmati di sejumlah majalah ibukota. Dewi juga sempat berakting lewat layar kaca sebagai pemain film (FTV).

Cindy Sistyarani



Mungil tapi lincah. Demikian kesan sekilas, begitu melihat sosok Cindy Sistyarani. Bungsu dari 3 bersaudara kelahiran Surabaya 17 Januari itu, memang dikenal lincah dan gesit di lapangan.

Memulai karirnya sebagai reporter di tvOne Biro Surabaya, sejak 17 Desember 2007. Wajahnya mulai dikenal pemirsa ketika Cindy aktif meliput kasus pembunuhan berantai dengan pelaku Riyan, dan juga dukun cilik Ponari di Jombang. Cindy ikut berdesak-desakan berbaur dengan ribuan warga demi bisa bertemu dan wawancara dukun cilik kesohor Ponari.

Namun yang paling mengesankan hingga kini adalah ketika meliput detik-detik eksekusi pelaku Bom Bali I Amrozi, Ali Gufron alias Mukhlas, dan Imam Samudra pada 9 November 2008. Cindy ditugaskan meliput di kediaman orangtua Amrozi, di Desa Tenggulun, Lamongan.

Kepastian waktu eksekusi sangat dirahasiakan. Di tengah ketidakpastian itulah, Cindy memutuskan sewa kamar kost di dekat rumah Amrozi hingga dua mingu lebih. Naluri jurnalistiknya jalan. Berhari-hari ia mendekati keluarga Amrozi, terutama ibundanya. Usahanya yang tak kenal lelah berbuah hasil, ibunda Amrozi dan Mukhlas itu pun akhirnya akrab dengan Cindy.

Menjelang eksekusi, Cindy berhasil ‘menculik’ ibunda Amrozi dan diajaknya ke sawah. Wartawan lain pun pontang panting mencari dimana gerangan ibunda Amrozi itu. Tak ada yang tahu, bersama ibunda Amrozi, Cindy ikut membantu mencabuti rumput di ladang Amrozi. Dari obrolan inilah, Cindy mengenal dekat keluarganya sehingga dialah wartawan pertama yang berhasil mewawancarai secara eksklusif ibunda Amrozi.

Walaupun sudah terbangun suasana kekeluargaan, toh Cindy pernah merasakan kejadian yang cukup menegangkan. Hari-hari menjelang eksekusi, pendukung dan fans Amrozi terus berdatangan. Mereka menginap di masjid dekat rumah Amrozi. Berita tentang eksekusi Amrozi kian santer di media. Di sana sini muncul pro kontra.i Suasananya demikian emosional.

Ketika massa mengetahui Cindy reporter tvOne, sekelompok orang yang umumnya berjanggut itu berteriak:”Allahuakbar..! Laknatullah tvOne…!!” Di ruang lain, siaran tvOne lamat-lamat terdengar sedang menayangkan kabar seputar rencana eksekusi Amrozi. “Laknatullah tvOne…!!!” teriak mereka. Jantung Cindy berdegup lebih keras. (tvOne memang stasiun televisi pertama yang terus menerus menyiarkan seputar Amrozi cs. Bahkan reporter tvOne Ecep S Yasa berhasil menyusup masuk ke LP Nusakambangan mewawancarai Amrozi cs. Ecep pula yang pertama mengabarkan bahwa Amrozi Cs,, pada pukul 00.15, 9 November 2008 telah di eksekusi –lebih cepat dua jam dari keterangan resmi Kejaksaan Agung).

Dengan nada bicara perlahan, Cindy tetap tenang, dan menyampaikan bahwa tvOne adalah televisi independen bukan milik Amerika seperti yang dituduhkan beberapa orang di Tenggulun itu. Untunglah, mereka mengerti. Suasana pun sedikit mencair, karena Cindy sudah kenal baik dengan keluarga Amrozi.

Tentu bukan karena tuah dari dukun cilik Ponari kalau Cindy gemar membaca. Sejak SMA ia sudah gemar melahap novel. Pramoedya Ananta Toer, merupakan pengarang favoritnya.

Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Airlangga ini, dikenal sebagai sosok mandiri. “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri; bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri,” demikian Cindy, mengutip salah satu novel Pramoedya

Selepas kuliah, Dewi tetap memilih karir sebagai jurnalis bukan pemain sinetron. Ia sempat menjadi pembawa acara di TVRI, sebelum akhirnya bergabung dengan tvOne pada September 2008. Pengalaman tak terlupakan adalah ketika Jakarta dilanda banjir pada November 2008. Untuk pertamakalinya ia diberi tugas meliput banjir secara ‘live’ di Kampung Melayu. “Kertas catatan saya jatuh di lumpur, dan saya pun ikut kecebur di situ,” katanya mengenang. Untunglah Dewi sudah punya jam terbang, sehingga bisa langsung melakukan improvisasi.

Dewi mencintai profesinya. Ia selalu tertantang untuk mencoba hal-hal baru. “Di dunia jurnalistik saya belajar banyak hal yang dulu tidak pernah terpikirkan sama sekali,” ujar penggemar musik jazz ini.
Di hari-hari senggangnya, Dewi lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton film dan melalap isi buku apa saja. Kristine Carlson menjadi penulis favorit Dewi, terutama yang berjudul: Don’t sweat the small stuff for woman. “Tulisan itu mampu menyeimbangkan jiwa dan psikologi kita,” ujar anak ketiga dari tiga bersaudara yang cukup lama tinggal di Magelang dan Yogya itu.
http://twitter.com/heyycindy

Yunita Prima



Sejak kecil, Yunita Prima, sudah suka bercuap-cuap di depan kaca sambil bergaya seorang penyanyi. Bakat menyanyi memang sudah terlihat sejak usia SD. Orang tuanya mulai serius mendukung putrinya, ketika Yunita berhasil menjuarai lomba menyanyi tingkat SD. Gadis kelahiran Jakarta 15 April 1986 itu, sejak 1998, ketika Yunita masih kelas l SMP, sudah tampil menyanyi di TVRI. Suara merdu Yunita bahkan sudah mengisi sejumlah jingle iklan, diantaranya yang populer adalah jingle iklan tepung beras Rose Brand.

Berbagai lomba pernah dimenangi Yunita, diantaranya lomba pidato dan berbagai kontes kepariwisataan di Jakarta dan Jawa Barat. Ia pernah meraih juara l Mojang Jawa Barat pada pemilihan Mojang-Jajaka Jawa Barat 2005. Dari situlah wajah Yunita mulai dikenal publik, karena sering muncul menghiasi surat kabar.

Karir Yunita di bidang entetain pun mulai terbuka lebar. Apalagi setelah dia terpilih membintangi dua serial sinetron dan FTV. Di sisi lain, Yunita juga mulai tertarik dengan ‘public speaking’. “Walaupupn aktif kegiatan di luar sekolah, tapi saya selalu juara kelas,” tutur Yunita. Lulusan FISIP UI jurusan Administrasi Negara itu memang langganan juara kelas. Bahkan ketika SMA Yunita meraih juara umum. “Semua ini berkat dukungan keluarga,” katanya.

Selepas kuliah, Yunita rupanya lebih memilih karir sebagai jurnalis ketimbang menjadi pemain sinetron atau penyanyi. Yunita mengawali karirnya di ANTV sebagai presenter. Setahun kemudian, pada Mei 2008, ia bergabung dengan tvOne. Pengalaman yang mengesankan adalah ketika berhasil pertamakalinya mewawancarai Ida Laksmi, istri Antasari, ketika sang suami yang mantan Ketua KPK itu, menunggu detik-detik vonis hakim atas tuduhan pembunuhan Nasrudin.

Winny Charita




Winny Charita termasuk generasi produk tvOne. Walaupun sebelum bergabung dengan tvOne pernah berkarir di Jawa Pos Media TV, namun lulusan Fakultas Ekonomi UNAIR itu merasa tvOne telah membuka matanya lebih luas untuk mengenal dunia broadcast.

Gadis kelahiran Jember 23 Maret 1985 ini memang lulusan Kampus One (angkatan ke-2), yang di wisuda Januari 2010. Kampus One, merupakan lembaga pendidikan internal tvOne. Di kawah candradimuka inilah, calon reporter tvOne dididik secara ketat selama 6 bulan. Mereka belajar tehnik pengambilan gambar, interviu, membuat naskah, dan lain-lain.

Winny yang pernah menjadi finalis JTV Presenter 2007 di Surabaya dan anggota Paskibraka Jawa Timur itu, merasa telah menemukan dunianya yang baru sebagai seorang reporter. “Reporter as be me. Alhamdulillah enjoy melakukan pekerjaan ini. Ketertarikan terhadap news membuat aku semakin semangat,” ujar Winny.

Veronica Moniaga



Veronica Moniaga, memulai karir dari daerah sebagai reporter tvOne untuk liputan Biro Makassar, sejak awal tvOne berdiri. Pada 2009, wanita kelahiran Makassar 24 Februari 1985 itu, ditarik ke pusat untuk memperkuat jajaran reporter di Jakarta. Awal 2010, Veronica ditempatkan sementara di Biro Surabaya.

Cita-cita awal Vero adalah ahli pertanian. Karena itu, selepas SMA, gadis berkulit putih yang suka humor itu, masuk di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin. Setamat kuliah, 2004, bukannya membantu petani, Vero malah melamar sebagai reporter di Makassar TV. Tiga tahun di sini, Veri kemudian bergabung dengan tvOne.

Ia mengaku senang menjadi seorang jurnalis. Berbagai jenis peristiwa pernah diliput Veronica, mulai dari banjir hingga politik. “Saya seorang pekerja keras, dimanapun ada berita saya siap mengejarnya,” kata Vero.

Atika Sunarya




Sepintas sosok Atika Sunarya terkesan pendiam. Padahal, kalau sudah mengenal dekat, wanita berdarah Sunda-Padang ini, cukup ‘ramai’. Di sela-sela rapat redaksii misalnya, Atika sering mengeluarkan celetukan spontan yang membuat rekannya tertawa. “Saya memang suka bercanda dan blak-blakan,” ujarnya.

Penyuka spagethi dan masakan padang itu, sejak lulus dari Universitas Pelita Harapan sudah bercita-cita menjadi seorang jurnalis. “Dunia jurnalistik menantang dan dinamis,” katanya memberi alasan. Karena itu, begitu lulus kuliah ia langsung mendaftar ke stasiun televisi Lativi, pada 2003. Ketika manajemen Lativi beralih kepemilikan, Atika pun tetap bertahan di tvOne.

Selain sebagai news presenter dan asisten produser, Atika adalah seorang ibu yang menyenangkan. Ia sudah memiliki buah hati, seorang putri cantik, Alexandria Putri Devasya. “Soal makanan untuk anak, saya paling cerewet,” ujar Atika terus terang.


1 komentar:

Fakhri Mahendra mengatakan...

kemarin 9 juli yg di acara presiden pilihan rakyat gue gak tau namanya siapa cantik bener :3

Poskan Komentar